Binawasa Kwarran Kertanegara
Sementara itu, Andalan Binawasa Kwarran Kertanegara bertindak sebagai panitia sekaligus fasilitator kegiatan. Mereka memastikan jalannya kursus berjalan tertib, terstruktur, dan memenuhi kebutuhan para pembina. Peran ganda Andalan Binawasa sebagai panitia dan pendamping peserta membuat kegiatan menjadi lebih kondusif dan komunikatif.
Kolaborasi antara Pusdiklatcab dan Kwarran Kertanegara menunjukkan sinergi yang kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan kepramukaan. Para peserta mengakui bahwa pendekatan pembelajaran dari pelatih Pusdiklatcab sangat membantu mereka memahami berbagai konsep dasar dengan lebih mendalam.
Pada kegiatan kursus ini, peserta mendaptkan materi yang meliputi fundamental Gerakan Pramuka, Kiasan Dasar dan Sistem Among, Prinsip Dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK), Peran dan Tugas Pembina di Gugus Depan, SKU dan SKK, Studi Kasus Kepramukaan.
Baca juga : Unjuk Kebolehan Pramuka Penggalang Purbalingga Dengan Gelar Keterampilan
Dengan jumlah peserta mencapai 78 pembina, kegiatan ini menjadi bukti nyata tingginya antusiasme pembina di Kertanegara untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Para peserta berasal dari berbagai tingkatan pembinaan, mulai dari Siaga, Penggalang, hingga Penegak dan Pandega.
Salah satu peserta mengungkapkan bahwa materi kursus ini sangat bermanfaat. Banyak hal yang tadinya belum mereka pahami secara garis besar, kini menjadi lebih jelas dan terarah.
Harapannya kursus orientasi ini membawa dampak positif bagi seluruh peserta. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang dasar-dasar kepramukaan, pembina dapat lebih percaya diri dalam menyusun program latihan. Serta memfasilitasi kegiatan, dan membina peserta didik.

Beberapa pembina menyampaikan bahwa mereka merasa lebih siap menghadapi tantangan pembinaan setelah mengikuti pelatihan ini. Salah satu contohnya adalah materi tentang SKU dan SKK yang mereka anggap sangat membantu. Hal ini karena selama ini banyak pembina yang merasa kesulitan menerapkannya secara konsisten.
Sementara itu, materi studi kasus memberikan wawasan baru bagi pembina dalam menyelesaikan masalah. Pembina merasa lebih terbuka melihat berbagai pendekatan yang dapat diterapkan, sehingga mereka tidak hanya terpaku pada satu metode saja.














