PURBALINGGA – Anggota Pramuka Peduli (Pramuli) Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Purbalingga ikut terlibat dalam tim pencarian korban banjir klawing.
Banjir Sungai Klawing pada Minggu malam 3 Agustus 2025 mengakibatkan enam pekerja terjebak di tanggul Sungai Klawing.
Yakni atas nama Juni Setiawan (31), Muntohar (30) keduanya Operator Excavator, dan Bintang Putra Nugraha (23) (Teknisi)
Serta, Sarwoyo (50) dan Muhyadi (60) keduanya pekerja warga setempat serta, Tedi Septian (28) Staf PT. SMS.
Tiga orang berhasil selamat, sementara satu korban, atas nama Sarwoyo, terbawa banjir dan meninggal dunia.
Hingga saat ini, tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua korban yakni Tedi Septian dan Muhyadi
“Saya mengajak kita semua untuk tidak hanya berikhtiar secara teknis, tapi juga lewat doa dan empati. Anggap ini seperti mencari saudara kandung kita sendiri. Mari kita miliki sense of crisis yang sama,” tutur Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani, Rabu 6 Agustus 2025.
Wabup juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim gabungan SAR, relawan, dan unsur lainnya yang sejak Minggu malam 3 Agustus 2025 telah berjibaku melakukan pencarian.
Namun ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan personel di tengah cuaca yang tak menentu.
Keselamatan adalah prioritas. Jika kondisi tidak memungkinkan, pencarian bisa dihentikan sementara dan lanjutkan saat situasi lebih aman.
“Jangan sampai niat baik ini justru menimbulkan korban baru,” pesan Wabup.
Tim Pencarian Korban Banjir Klawing
Dalam kesempatan itu, Wabup juga menyoroti perlunya evaluasi terhadap proyek sodetan Sungai Klawing.
“Musibah ini menjadi bahan introspeksi bagi para kontraktor maupun pekerja proyek agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Cilacap, Muhamad Abdullah menjelaskan, sebanyak 150 personel terlibat dalam operasi pencarian.
Operasi ini terbagi ke dalam lima Search and Rescue Unit (SRU).
SRU 1 – 3 bertugas melakukan penyisiran permukaan air sepanjang kurang lebih 25 km.
SRU 4, menjaga titik-titik rawan seperti bendungan dan pusaran air.
Sedangkan SRU 5, melakukan pemantauan udara dengan bantuan drone thermal untuk mendeteksi keberadaan korban.















