Pinkon Jambore Nasional
Pimpinan Kontingen Jambore Nasional Kwarcab Purbalingga, Kak Nurhadiyanto menjelaskan bahwa konsep Training Center sengaja dirancang lebih menekankan pengalaman langsung daripada pembelajaran di dalam kelas.
”Kami ingin peserta tidak hanya siap secara teknis materi Kepramukaan, tetapi juga memiliki keberanian mengambil keputusan, mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja sama dalam tim, serta siap menghadapi berbagai situasi di Jambore Nasional. Pengalaman menggunakan transportasi umum, berjalan menuju lokasi kegiatan, hidup di tenda, hingga berinteraksi dengan teknologi merupakan bagian dari proses pembentukan karakter yang kami harapkan akan terus mereka bawa setelah kegiatan ini selesai.” Ujar Kak Nurhadiyanto.
Menurutnya, Jambore Nasional merupakan ruang belajar yang mempertemukan ribuan Pramuka dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Karena itu, kesiapan mental, komunikasi, dan kemandirian menjadi aspek yang sama pentingnya dengan keterampilan kepramukaan.
Salah satu peserta, Naylha, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti Training Center.

“Yang paling berkesan buat saya karena hampir semuanya adalah pengalaman pertama. Pertama kali belajar membuat game, pertama kali naik Trans Banyumas bersama teman-teman, berjalan kaki menuju lokasi perkemahan, sampai menginap di tenda bersama kontingen. Awalnya cukup menantang, tapi ternyata seru sekali. Saya jadi lebih percaya diri, lebih mandiri, dan semakin tidak sabar mengikuti Jambore Nasional.” Ungkapnya.
Training Center ini menjadi bagian dari proses pembentukan kontingen yang tidak hanya siap mengikuti agenda nasional, tetapi juga siap menjadi representasi generasi muda Purbalingga yang adaptif, kreatif, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), Kwarcab Purbalingga berharap setiap anggota kontingen tidak sekadar menjadi peserta Jambore Nasional, melainkan pulang sebagai agen perubahan yang membawa semangat kepemimpinan, kolaborasi, dan inovasi bagi lingkungan sekitarnya. (Nadirah Dwi Maulidiyah).

















