KWARCAB PURBALINGGA – Acara pelepasan Kontingen Jambore Nasional XII Tahun 2026 Kwarcab Kabupaten Purbalingga pada Kompleks Pendopo Dipokusumo, Senin 10 Agustus, menghadirkan suasana amat berbeda.
Perwakilan anggota kontingen menyampaikan salam pamitan serta permohonan doa restu kepada Ketua Majelis Pembina Cabang Gerakan Pramuka Purbalingga, Fahmi M. Hanif, memakai tiga bahasa secara bersamaan.
Langkah kreatif tersebut sangat selaras terhadap konsep Trigatra Bangun Bahasa rancangan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Slogan pembinaan ini mengusung tiga ranah utama, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing.
Para anggota kontingen membagi peran secara apik saat momen pelepasan berlangsung.
Queen Anissa Al Madina Kurniawan menyampaikan salam pamit memakai bahasa Indonesia.
Sementara itu, Muhammad Sidqi Teja memakai bahasa daerah, lalu Soraya Atika Mardiyah berkomunikasi lancar menggunakan bahasa Inggris.
Suasana acara terasa makin mengesankan tatkala Aimar Nashif Faizi, peserta berkebutuhan khusus asal SMP LB Negeri Purbalingga, menyampaikan pesan lewat bahasa isyarat.
Pembina pendamping, Kak Pandu Jatmiko, membantu mengartikan setiap gerakan isyarat tersebut secara langsung kepada segenap hadirin.
Ketua Kwarcab Purbalingga Kak Tri Gunawan Setyadi melalui Andalan Humas Ginanjar Noviono menegaskan bahwa skenario pamitan unik ini menjadi sarana penting guna membentuk anggota Pramuka yang senantiasa paham serta peduli makna bahasa.
“Dari Bidang Humas dan Informatika Kwarcab Purbalingga berupaya mengenalkan Trigatra Bangun Bahasa kepada masyarakat luas secara umum,” ungkapnya.
Aksi para penggalang Purbalingga ini menuai pujian hangat dari Komunitas Peduli Bahasa Indonesia Kabupaten Purbalingga.
Terpisah, Pegiat literasi sekaligus guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Padamara, Untung Pujiarto, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas langkah nyata Kwarcab Purbalingga menyangkut operasionalisasi konsep Trigatra Bangun Bahasa.
Menurut Untung, penerapan tiga bahasa saat acara resmi bukan sebatas variasi penyampaian pesan semata, melainkan wujud nyata cinta tanah air.
“Sekaligus penghargaan terhadap kekayaan bahasa daerah dan keterbukaan terhadap bahasa asing,” ujar Untung Pujiarto.
Untung menilai inisiatif Kwarcab Gerakan Pramuka Purbalingga membuktikan bahwa gerakan kepramukaan sanggup mengambil peran strategis guna memartabatkan bahasa Indonesia serta melestarikan budaya lokal.
Gagasan terpuji tersebut sangat pantas menjadi teladan inspiratif bagi berbagai lembaga lain.
“Saya sangat mengapresiasi langkah Kwarcab Gerakan Pramuka. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Sekaligus penghargaan terhadap kekayaan bahasa daerah dan keterbukaan terhadap bahasa asing,” tutur Untung.

















