Air adalah mata air peradaban, dan sungai merupakan pembuluh darah utama bagi kelestarian bumi. Ketika modernisasi, sedimentasi, dan perubahan iklim mulai mengancam keseimbangan ekosistem perairan, panggilan untuk bertindak bukan lagi sekadar retorika di atas kertas, melainkan sebuah keharusan nyata di lapangan. Menjawab tantangan lingkungan tersebut, Kwartir Ranting (Kwarran) Gerakan Pramuka Kertanegara mengambil langkah konkret yang transformatif. Tepat pada hari Sabtu, 23 Mei 2026, Pramuka Peduli Kwarran Kertangara menggelar aksi pelestarian alam yang masif dengan melepas ribuan bibit ikan air tawar di hulu Sungai Wotan, Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara.
Kegiatan ini bukan semata-mata agenda seremonial yang berlalu tanpa bekas, melainkan sebuah manifestasi fundamental dari Darma Kedua Pramuka: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Di tengah kecemasan global mengenai penurunan drastis keanekaragaman hayati (biodiversitas) akuatik, kolaborasi epik yang tercipta di Kecamatan Kertanegara ini laksana oase yang menyegarkan. Aksi ini membuktikan secara nyata bahwa kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup masih tertanam kokoh, tumbuh subur, dan bergerak aktif di tingkat akar rumput masyarakat khususnya anggota Pramuka.

Kegiatan konservasi sungai yang berdampak luas ini digawangi secara langsung oleh pengurus Pramuka Peduli Kwarran Kertanegara sekaligus Wakil Ketua Bidang Binamuda, kakUnik Tangguh Prasetya. Di bawah arahannya, Pramuka Peduli tidak hanya membatasi diri pada peran responsif saat bencana alam terjadi, tetapi secara aktif mengambil peran preventif-strategis melalui pemulihan ekologis secara berkala.
Menurut penjelasan kak Unik Tangguh Prasetya, pemilihan hulu Sungai Wotan di Desa Krangean didasarkan pada pertimbangan ekologis yang matang. Wilayah hulu merupakan zona krusial yang menjadi parameter utama kualitas air dan keberlangsungan seluruh rantai makanan di sepanjang aliran sungai hingga ke wilayah hilir.
“Jika wilayah hulu mengalami kerusakan, pencemaran, atau kehilangan keanekaragaman hayatinya, maka seluruh ekosistem di bawahnya akan menerima dampak domino yang merusak. Oleh sebab itu, menjaga kelestarian hulu sungai adalah harga mati demi menjamin ketersediaan air bersih dan sumber pangan alami bagi generasi yang akan datang.” Jelasnya.















